Translator

Lucu-lucuan aja

A Testing Series

There must be something in your life that you have spent a lot of time and energy to get. Think of when you were in school, a time of frequent exams taken to prepare yourself for entrance into the university of your choice. Most young people regard such exams as turning points in their lives, because these exams will determine the shape of their future. They prepare for years for this event, give up their sleep and special activities, vacations, and other entertainment. Totally focused on entering their chosen university, they remain patient and determined to achieve this goal.

Now, consider the situation of those people whose most important aim is to own a nice house. In order to afford their dream home, they must first have the financial ability to buy it. Therefore, they will work day and night to get a good job and then move on to higher positions and larger salaries. After years of self-sacrifice, they will be able to buy or build their dream house.

As these examples show, people often have to work with great determination for years in order to overcome all of the obstacles standing between them and the object or goal to which they attach such value. Furthermore, if people pursue financial power, social respect, reputation, or a particular career, they will have to exert serious effort in the face of various setbacks and, as they say, "give something of themselves."

But here we must consider an important point: The above examples are about the transitory pleasures of this worldly life, all of which will disappear with the person�s death or may be lost suddenly due to some unexpected mishap. For example, a young person who spends years working assiduously to pass an exam may be killed in an accident before taking that exam. Or, a person�s effort and energy expended in the quest of buying a house may be disastrously undone in an instant through fire.

All of the pleasures sought after in this earthly life, no matter how hard we may work for them, are transitory. But there is also a real and genuine life of endless pleasure, one that will never be lost or consumed, one that human beings will enjoy for eternity: the life after death that believers work so hard in this life to attain. They regard this goal as being far more important than anything else and always keep it before their eyes.

So, this worldly life is a "testing ground" that human beings must go through to determine which type of eternal life they will experience in the Hereafter. While in this world, human beings take an exam to enter the Afterlife. In every case, the correct answer is to pursue Allah's good pleasure.

In reality, life is no more than a transitory testing and training period created by Allah for each person. Throughout this period, human beings are responsible for pondering this reality in order to know our Lord, obey His commands, and seek His good pleasure. They are also responsible for showing grace, patience, and moral strength in the face of everything that happens to them while in this world. The great secret within this test is known only to believers: to be content in knowing that everything is a test from our Lord and to meet every eventuality with joyful enthusiasm.

(Harun Yahya)

                            

Permintaan Hati

Wahai Tuhan yang menancapkan untukku tanaman zikir, mengalirkan sungai-sungai munajat, membuatkanku hari-hari raya dalam pertemuan manusia, dan mendirikan untukku di kalangan mereka pasar ketakwaan.

Aku datang dengan sengaja kepadaMu dengan hati yang penuh harap kepadaMu dan dengan lisan yang basah karena berdoa kepadaMu.

Ya Tuhanku, bagaimana aku melupakanMu, sedang aku tidak punya tuhan selain Engkau.
Ya Tuhanku, bagaimana aku berlari dariMu, sedang aku mengetahui bahwa tiada jalan menuju surgaMu, kecuali karena kemurahanMu; dan tiada jalan yang terputus dariMu, kecuali karena keadilanMu.

Ya Tuhanku, aku mengadu kepadaMu tentang dosa-dosa yang tidak dapat kuingkari. Aku memohon Engkau mengampuninya sebelum hisab-Mu padaku di padang Mahsyar. Dan, aku memohon Engkau mengampuniku di padang Mahsyar, sebagaimana Engkau menutupinya ketika di dunia
.

Ya Tuhanku, aku tidak akan mengatakan : "aku tidak akan mengulangi dosaku lagi", karena aku mengetahui diriku mudah melanggar janji. Sebaliknya, aku akan mengatakan : "aku tidak akan mengulanginya lagi" dengan harapan semoga aku mati sebelum mengulanginya.

Wahai Tuhanku Yang Maha Pemurah dan paling diharapkan kemurahanNya, aku mengadu kepadaMu tentang keinginan-keinginanku. Aku mohon berikanlah apa yang aku inginkan. Akan tetapi, jika Engkau tidak memberiku apa yang aku inginkan, sabarkanlah diriku terhadap apa yang Engkau kehendaki.

Wahai Tuhanku, aku mengadu kepadaMu tentang sakit dan sedihku.
Aku mohon sembuhkanlah segala sakitku dan singkirkanlah semua kesedihanku. Jika tidak, Engkau maha adil, cukuplah kasih sayangMu sebagai pengganti dan penghibur untukku.

Ya Allah, sesungguhnya aku tidak akan pernah putus harapan dari perhatian dan rahmatMu sepanjang hidup dan sesudah matiku. KepadaMu lah aku bersandar dan menggantungkan segalanya.

Mengenal Autisme

Autis. Akhir-akhir ini istilah ini makin sering kita dengar ya. Sebenarnya apa sih autis itu?.

Autisme merupakan gangguan proses perkembangan yang terjadi dalam 3 tahun pertama kehidupan seorang anak. Autisme bukan merupakan gangguan mental, dan bukan disebabkan oleh trauma. Autisme merupakan gangguan neoro-biologi kompleks. Hampir semua struktur otak penyandang autis memiliki kelainan, seperti pada otak kecil, lapisan luar otak besar, sistem limbik (pengatur emosi), penghubung otak kiri-kanan, dan batang otak.
Kelainan inilah yang menyebabkan gangguan pada perkembangan sosial, perilaku, dan bahasa bicara penyandangnya.

RAGAM GEJALA
Autisme merupakan gangguan dengan spektrum luas, dari yang ringan hingga berat. Beberapa hal yang layak dicermati sebagai tanda awal autisme adalah :
1. Gangguan bahasa, contoh :
- Bila diajak bicara atau diperintah melakukan sesuatu, ia diam dan tak acuh saja.
- Perkembangan kemampuan bahasa cenderung lambat. Misalnya, hanya mengoceh dalam bahasa 'planet' atau membeo. Jika ditanya, akan mengulangi pertanyaan tersebut berulang-ulang.
- Kehilangan kemampuan mengucapkan kata-kata yang semula sudah ia kuasai.
- Tidak mampu mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal.
2. Gangguan perilaku, contoh :
- Memiliki rentang perhatian yang terlalu panjang. Misalnya, menderetkan mainannya lalu merusakkannya kembali. Ini dilakukannya berkali-kali tanpa henti. Ada juga yang anteng berjam-jam mengamati kipas yang sedang berputar.
- Suka menstimulasi diri sendiri seperti handflapping, berjalan jinjit dan sebagainya.
- Hiperaktif
3. Gangguan sosial, contoh :
- Tidak ada peer relationship, tidak tertarik untuk bermain bersama anak sebayanya.
- Ia terlihat asyik dalam dunianya sendiri, tidak tertarik dengan lingkungannya.
- Interaksi dengan ayah, ibu dan orang lain terasa dangkal dan terbatas hanya pada saat ia membutuhkan sesuatu saja.
4. Bermasalah dalam kekebalan tubuh, sering sakit dan mengalami alergi.

Pemeriksaan pada anak yang masih kecil bukan hal mudah. Gejala dan spektrum yang ditunjukkannya pun seringkali inkonsisten dan sangat luas. Oleh sebab itu, jangan heran jika dokter saraf anak pun membutuhkan berbagai pemeriksaan dan pengamatan sebelum akhirnya menyimpulkan.

INTERVENSI DINI
"Kesembuhan" dapat tercapai bila dilakukan intervensi sedini mungkin dan secara intensif. Intervensi yang dapat dilakukan meliputi beberapa aspek dan cara yang bersifat individual. Salah satunya adalah teknik ABA (Applied Behavior Analysis) yang dikenal sebagai metode Lovaas. Prinsip pelatihannya adalah konsep tiru. Misalnya, anak diajari gerakan mengacungkan jempol, meniru suara, suku kata dan sebagainya. Selain masalah reward (pujian, pelukan, makanan dan sebagainya) pada anak, teknik ini juga menekankan konsistensi.

Para ahli sepakat, bahwa semakin muda usia atau sebelum umur 3 tahun, hasil dari intervensi semakin baik. Oleh sebab itu, segera setelah diagnosis dibuat, lakukan intervensi.

PERAN ORANGTUA DAN KELUARGA
Selain terapi dengan teknik ABA, ada juga terapi lain yang perlu dilakukan untuk mendukungnya. Seperti terapi obat, terapi diit, terapi wicara, terapi perilaku, dan lainnya yang disesuaikan kebutuhan anak.

Hal lainnya yang dapat dilakukan untuk mendukung anak :
- Sebaiknya perlakukan anak sesuai dengan usianya.
- Penanganan dilakukan secara serempak dan serentak oleh setiap orang yang terlibat dalam kehidupan anak. Misal, anak menjalani terapi perilaku di sebuah tempat terapi, hal yang sama juga harus diterapkan di rumah. Jangan serahkan terapi pada dokter atau terapis semata.
- Jika anak tidak merespon secara verbal, lakukan kontak dengan cara lain. Misalnya, melalui bahasa tubuh, gerakan tangan, ekspresi wajah, dan kartu bergambar.
- Ajarkan beberapa keterampilan sehari-hari yang penting, seperti toileting, berpakaian sendiri, dan cara makan yang baik.
- Bekerjasama dengan para ahli seperti guru, dokter, psikolog, dan para terapis dalam merancang dan menjalankan program terapi yang tepat.
- Fokus penanganan sebaiknya tetap realistis sesuai dengan kehidupan anak sehari-hari, dan tidak melulu menyangkut akademis, seperti : kemampuan membawa diri di lingkungan, kemampuan menahan amarah dan mengatasi kekecewaan, kemampuan adaptasi, kemampuan menyelesaikan masalah, dan kemampuan komunikasi.
- Bergabunglah dengan komunitas sesama orangtua anak berkebutuhan khusus lainnya.
- Yakinlah bahwa Allah tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya. Sadarilah bahwa ada oranglain yang diuji dengan hal-hal yang lebih berat.
- Kegagalan adalah pelajaran yang berharga dan merupakan bagian dari proses.

Sumber :
- Dyah Puspita, Untaian Duka Taburan Mutiara, Qanita
- Nakita, Merawat Anak Sakit, PT Sarana Kinasih Satya Sejati
- www.anakspesial.com

Dari Lubuk Hati Terdalam

" Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadu lemahnya kekuatanku, sedikitnya usahaku, dan remehnya diriku di mata orang lain.
Wahai Tuhan Maha Pelimpah rahmat, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku.
Kepada siapakah Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang bermuka masam atau pada orang yang berlaku kejam padaku. Ataukah pada musuh yang menguasaiku.
Jika Engkau tidak murka padaku, aku tidak peduli dengan semua itu.
Akan tetapi, pemaafan-Mu lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat, agar Engkau tidak menurunkan kepadaku murka-Mu atau aku tertimpa oleh kebencian-Mu.
Bagi-Mu segala puji sampai Engkau ridha; tiada daya untuk menghindar dari kedurhakaan; dan tiada kekuatan untuk melakukan ketaatan; kecuali dengan pertolongan-Mu "

Doa Rasulullah SAW

Me & Ceuceu

FRAGMEN 1.

Ceuceu Jihan : "Ateu, ateu"

Ateu Neu : "Hemh..apa ceu?"

Ceuceu Jihan : "Ateu kalo ga pake kacamata cantik"

Ateu Neu : "Masa seh?"

Ceuceu Jihan : "Kalo pake kacamata, sedang-sedang aja"

Gubrak !!!
Yaa ..

FRAGMEN 2.

Ceuceu Jihan : "Ateu ateu"

Ateu Neu : "Hemm.."

Ceuceu Jihan : "Kok ateu sama ibu Jihan beda"

Ateu Neu : "Beda apanya?"

Ceuceu Jihan : "Ibu umur 29 anaknya dah 2, ateu kok belum?"

Gubrak !!!
Aku meringis.
"Neng..jalan hidup tiap orang teh beda-beda. Jadi.. doain ateu ya.
Married is not about age, but soon is better heheh"

FRAME 3

Ceuceu Jihan : "Ateu..sini deh"

Ateu Neu : "Apa ceu.."

Ceuceu Jihan : "Liat deh, di bawah mata ceuceu udah ada kerutannya"

Gubrak!!!
Ckakakakakakak.. ceuceu .. ceuceu .. ya iya lah masa ya iya dong, tiap orang juga di bawah matanya ada kerutannya..Kebanyakan nonton iklan Pond's neh ceuceu.

FRAGMENT 4.

Ceuceu Jihan : "Ateu, ateu suka kue yang asin atau yang manis?"

Ateu Neu : "Yang asin. Kalo ceu?"

Ceuceu Jihan : "Yang asin juga"

Ateu Neu : "Eh ateu mo tanya. Kalo ateu punya dua kue, satu asin, satu manis; ateu mau kasih satu ke ceu, ceu mau ambil yang mana?"

Ceuceu Jihan : "Hemm..boleh dua-duanya?"

Ateu Neu : "Ga dong.."

Ceuceu Jihan : "Atau setengah-setengah? asin setengah, manis setengah"

(yeey .. pinter deh..)

Ateu Neu : "Ga boleh"

(setelah sekian detik yang rasanya lamaaa banget)

Ceuceu Jihan : "Asin aja deh"

Nah gitu dong .. konsisten, dan full commitment. Hahahahaha.

Cast : Ateu Neu is me. Ceuceu Jihan is my niece.

Sang Penghibur

Bagian 1.
Tetap semangat :

Pertolongan itu sesuai kadar usaha yang dilakukan.

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka berusaha mengubah keadaan mereka.

Allah membantu hamba-hambaNya yang mau berusaha.


Bagian 2.
Baik sangka :

Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.

Allah akan menjadikan kelapangan setelah kesempitan.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Berpegang teguhlah padaNya, dan bersyukurlah.

Berdoalah padaNya, niscaya Allah perkenankan bagimu.

Janganlah kamu berputus asa dari rahmatNya.

Sesungguhnya Allah Maha Luas pengampunanNya.

"Aku seperti persepsi hambaKu padaKu".

Siapa saja yang bertakwa pada Allah, akan dijadikan untuknya jalan keluar.

Sesungguhnya, pertolongan Allah itu dekat.

Sesungguhnya rahmatNya amat dekat pada orang-orang yang berbuat baik.

Jagalah Allah, maka Allah akan menjaganya.

Kasih sayangNya menutupi murkaNya.

Adalah hal yang mustahil, sebuah keadaan tidak dapat berubah.

Orang yang sangat sabar akan mendapatkan yang terbaik.

Allah tidak menjadikan untukmu suatu kesempitan dalam dienNya.

Ingatlah padaNya, niscaya Ia ingat pula padamu.

RahmatNya meliputi segala sesuatu.

Bagian 3.
Merendahkan diri :

Nikmat apapun yang kamu dapat, itu datang dariNya.

Siapakah yang memperkenankan doa apabila seseorang berdoa padaNya?.

Tidak ada daya dan upaya selain dengan ijin Allah.

Cukuplah Allah sebagai Penolong, dan Ia adalah sebaik-baik Pelindung.

Sebuah Puisi

Oleh : Justine Hirscfeld & Brooke Brinsky. 11 tahun, Canada. Penyandang LD .
Dalam : Edisi pertama majalah Anak Spesial.


Aku hanyalah seorang anak,
aku butuh cinta juga,
hanya karena aku berbeda,
bukan berarti kau dapat mengabaikan aku.

Ketika aku melakukan sesuatu yang kecil,
tetap berarti suatu pencapaian yang besar bagiku.

Hidupku terlihat lambat dan kurang bercahaya dibanding yang lain,
tapi aku menolongmu menjadi sabar dan penuh syukur.

Dunia terberkati oleh orang special sepertiku,
menjadi nasibku menggapai dan menyentuh kehidupan orang-orang,
yang peduli padaku.


(Terinspirasi dari adikku Engkun dan muridku Evelyne)

Roti Selimut Telur

Cocok banget buat sarapan atau cemilan sore. Uenak!!.

Bahan untuk 1 porsi :
- 2 lembar roti tawar. Potong miring jadi dua.
- 1 butir telur.
- merica bubuk secukupnya.
- 1/2 batang daun bawang, diiris halus.
- margarin tuk menumis

Cara Membuat :
1. Aduk telur, garam, merica, daun bawang.
2. Lumuri roti dengan adonan telur, lalu tumis di wajan anti lengket hingga kecokelatan.

Sumber : Nakita

Jawaban Terbaik

Pada suatu hari Anas RA menuturkan kisah ini :
Ketika masa iddah Zainab sudah berakhir Rasulullah SAW berkata pada Zaid : "Lamarkan aku padanya". Lantas Zaid berangkat menemui Zainab dan mengatakan : "Wahai Zainab, Rasulullah SAW mengutusku untuk melamarmu untuk Beliau". Zainab menjawab : "Aku tidak bisa berbuat apa-apa sebelum melakukan istikharah untuk mendapat petunjuk dari Tuhanku".

Inilah jawaban Zainab ketika seorang utusan Allah, manusia paling utama melamarnya. Padahal wanita beriman mana yang tidak mau mendampingi Rasulullah SAW? dan Zainab, sosok wanita beriman, tentu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Namun keimanannya telah menjadikan Zainab lebih mengutamakan pilihan Allah. Dia lebih mengutamakan istikharah untuk meminta jawaban yang terbaik dari Allah. Keteguhan hati Zainab inilah yang akhirnya menjadikan dia berkedudukan mulia, yaitu menjadi salah satu pendamping Rasulullah SAW.

Nah bagaimana dengan kita, Sist?. ;)

(BHRM, Mas Udik Abdullah, Pro-U Media)

Tidak Ada Libur

Adakalanya liburan dialami para murid sekolah, cuti diperoleh para pegawai kantor, dan istirahat diberikan di sela kegiatan. Tetapi, itu semua bukan dari Tuhan, sebab setiap muslim tidak punya libur, cuti dan istirahat sebelum kakinya melangkah ke surga.

"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang padamu ajal" (QS Al-Hijr : 99)

Kita tidak punya waktu libur sepanjang siang dan malam, karena malaikat pencatat amal kebaikan senantiasa mencatat dan menulisnya; demikian pula malaikat pencatat amal keburukan senantiasa menghitung dan mencatatnya.

"Biarkan mereka di dunia ini makan dan bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui akibat perbuatan mereka" (QS Al-Hijr : 3)

Apakah kita yakin bahwa kita tidak akan mati, kecuali bila telah tua?.

"Maka apakah kamu mengira Kami menciptakan kamu secara main-main saja dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan pada Kami? ..." (QS Al-Mukminuun : 115)


Transaksi yang Menguntungkan

Ini adalah transaksi yang tertulis, perjanjian yang dikuatkan, dagangan yang ditawarkan.

Pihak pembeli adalah Allah. Pihak penjual adalah orang-orang mukmin. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah?. Dagangan yang ditawarkan adalah surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya, maka ia tidak akan tua, tidak akan menyesal, dan tidak akan pudar kemudaannya.

Harta benda, jiwa raga dan kehormatan, semuanya milik yang menciptakannya. Semuanya ada pada kita hanyalah sebagai pinjaman, maka pemilik sebenarnyalah yang lebih berhak dengannya.

Sebenarnya kita tidak memiliki apa pun. Semuanya adalah pemberian, hibah, dan anugerah dari Allah belaka. Dia yang menciptakan, yang memberi rizki, yang memaafkan, yang menutupi kesalahan, yang memiliki sifat lembut, dan yang memberi jaminan.

(Aidh al Qarni)

Kabar Baik 3

"Sesungguhnya aku sakit sebagaimana dua orang di antara kalian sakit".

Ini adalah kalimat yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW saat demam mencekam tubuhnya, sebagaimana berbagai kejadian & cobaan menderanya.

Cobaan ditimpakan menurut kadar kecintaan dan pahala diberikan sesuai kadar kesabaran. Dan kekasih yang paling disayang Tuhannya adalah orang yang paling Dia muliakan kedudukannya. Dialah rasul kita, Muhammad SAW. Allah, apabila menyukai seorang hamba, ditimpakanlah cobaan padanya, untuk Dia lihat dalam kenyataan akan kesabaran, syukur, berserah diri, dan ketaatannya. Adapun Rasul kita SAW adalah pemimpin orang-orang yang sabar; tiada seorangpun mengalahkan beliau dalam bidang kesabaran. Beliau adalah anutan orang-orang yang bersyukur; tiada seorang manusia pun yang dapat mengalahkannya dalam bidang syukur. Allah menghimpunkan baginya dua kedudukan dan dua derajat, berkat puncak kesabaran dan ketinggian syukurnya.

"Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu kesusahan, kepayahan, kelelahan, dan rasa sakit, hingga tertusuk duri sekalipun, melainkan Allah akan menghapuskan karenanya sebagian dari dosa-dosanya" (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dll)

Kalau begitu berarti di sana ada Tuhan yang menghapuskan dosa-dosa, iman yang terpelihara, kebaikan yang diberikan, dan pahala yang dinantikan, maka selamatlah bagi orang-orang yang mengikuti Rasul.

(Aidh al Qarni)

Mahar Terbaik

MAHAR TERMAHAL

Bagai tersambar petir, amarah di dada Abu Thalhah nyaris termuntahkan ketika Ummu Sulaim menolak pinangannya. Mahar yang mahal telah ditawarkan. Tapi Ummu Sulaim menjawab “Sesungguhnya orang sepertimu tidak patut ditolak. Tetapi engkau adalah laki-laki kafir dan aku seorang muslimah. Tidak layak bagiku menikah denganmu”.
Abu Thalhah bertanya : “Apa sih maumu? Yang kuning (emas) atau yang putih (perak)?”.
Ummu Sulaim berkata : “aku tidak menginginkan itu semua. Yang aku inginkan adalah Islam darimu”.
Abu Thalhah bertanya : “Pada siapa aku mendapatkan itu?”.
Ummu Sulaim menjawab : “Rasulullah SAW”.
Bergegaslah Abu Thalhah menemui Rasulullah SAW yang saat itu sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Ketika Rasulullah SAW melihat Abu Thalhah beliau berkata “Telah datang Abu Thalhah dengan cahaya Islam di matanya”. Abu Thalhah menceritakan pada Rasulullah SAW apa yang dikatakan Ummu Sulaim padanya. Akhirnya Abu Thalhah pun menikahi Ummu Sulaim.

Sesungguhnya Ummu Sulaim adalah contoh yang agung bagi orang-orang yang ingin memperoleh kemuliaan dan keutamaan. Bagaimana dia meninggalkan pujian yang indah dan memilih pahala yang besar dan penuh berkah. Dia jujur pada Tuhannya, pada dirinya, dan pada manusia. Selamat mendapatkan keabadian dan kesuksesan yang menjadi penenang hatinya.

(Aidh al Qarni)

Hidup untuk Hidup?

Kita hidup. Ya, hidup, padahal kita tidak pernah memintanya. Atau paling tidak, seingat kita, hidup itu sudah ada dalam diri kita tanpa kita sadari. Dan tanpa sadar pula, kita telah berupaya sedemikian rupa, untuk mempertahankan hidup itu.

Sekarang apa tugas manusia hidup di muka bumi? Sekedar mempertahankan hidup itukah? Sekedar tidak mati sia-siakah? Atau mengisi hidup dengan segala kesenangan dan kemapanan? Atau apa?.

Ketidakmengertian akan hakekat hidup telah menyeret manusia menempuh jalan yang keliru. Mereka menganggap hidup harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk bersenang-senang, berbangga-bangga. Mumpung hidup, begitu mottonya. Itulah awal yang kemudian membuat banyak orang kesulitan. Anggapan yang membuat dinding batas tersendiri dan kelas-kelas tertentu. Persaingan kian ketat dan memperlebar jarak antar sesama manusia.

Hidup itu sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah memahami tugas hidup, dan hidup sesuai dengan tugas itu, yakni sebagai khalifah di muka bumi. Sayangnya, tidak banyak yang menyadari dan mau mengemban tugas ini, sisanya hanya beranggapan bahwa hidup itu hanya melulu untuk mencari uang!. Sementara uang juga dicari juga dalam rangka untuk hidup. Jadi, ke mana sebenarnya ujung kehidupan ini?. Bukankah lucu bila hidup hanya ditujukan untuk hidup itu sendiri?.

QS 51:56 dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.

(dari Suara Hidayatullah)

Qurban apa tahun ini?

Idul Adha, disebut juga Idul Qurban, karena memang penyembelihan hewan qurban dilaksanakan tepat setelah menunaikan shalat hari raya itu, yaitu 10 Dzulhijjah sampai matahari terbenam tanggal 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik).

Ibadah Qurban, seperti juga serangkaian ritual hati, merupakan syariat Nabi Ibrahim yang dilanjutkan dan dilestarikan oleh Nabi Muhammad SAW dan umatnya, bertolak dari ajaranNYA.
QS Al-Kautsar : 1-2 "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah".

Qurban yang dilakukan Ibrahim, adalah peristiwa yang menunjukkan makna tentang larangan bagi kita untuk menghamba pada insting-insting primitif kebendaan, larut dalam bujuk rayu materialisme hedonistik yang serba palsu, dan menjajikan kesenangan sesaat dan artifisial penuh rekayasa. Qurban adalah peristiwa yang melukiskan PERGULATAN iman Ibrahim; antara MEMILIH Allah atau Ismail, anaknya sendiri yang kelahirannya telah dinanti selama 100 tahun.

Hikayat dramatis ini diabadikan dalam QS Ash-Shaffat : 100-111, tentang makna hakiki dari sebuah pengorbanan. Menjelang Idul Adha 2007 ini, kita diingatkan tuk melakukan napak tilas dengan menjadi Ibrahim-Ibrahim kecil yang ikhlas dan rendah hati mengorbankan 'Ismail' yang paling kita cintai.

(Kutipan dari brosur MHQ 1428H An Nuur)

More about QURBAN

http://madrosah.multiply.com/journal/item/9

http://unteaq08.multiply.com/journal/item/7

http://daffodilmuslimah.multiply.com/journal/item/37

Kabar Baik 2

Allah mengajarkan padamu untuk hidup bahagia, tenang, dan selalu yakin padaNya.

Jangan bersedih dan putus asa, atas apa yang hilang dari dunia. Jangan sedih atas hari kemarin, karena dia tidak akan kembali. Jangan pula meratapi hari ini, karena dia pasti pergi. Impikanlah matahari yang bersinar terang esok hari.

Tidakkah kau tahu, bahwa kesulitan itu selalu diikuti oleh kemudahan, seperti kesabaran yang selalu diiringi kesenangan. Adalah suatu yang mustahil, sebuah keadaan tidak pernah berubah.

Allah lebih kasih sayang pada hamba-hambaNya daripada seorang perempuan pada anaknya. Menjauh dariNya tidak akan membuahkan sesuatu kecuali rasa sakit.

Sesungguhnya perasaan dekat denganNya melahirkan ketentraman denganNya, kebahagiaan dengan perhatianNya, dan kegembiraan dengan perlindunganNya. Sesungguhnya perasaan dekat itu adalah buah dari ketaatan kepadaNya dan hasil dari mencintaiNya.

(Aidh al Qarni)

Asal - usul

Pernahkah kita berpikir bahwa kita sering memberi nilai kepada sesuatu karena tampilan terkininya, bukan karena asal-usulnya?. Contohnya penilaian kita kepada nasi dan beras.

Kita cenderung lebih menghargai nasi daripada beras karena nasi bisa langsung dimakan. Padahal jika kita runut asal-usulnya, nasi bukanlah apa-apa, jika beras tidak rela menjalani proses menjadi nasi. Dan jika kita runut lagi, beras juga bukan apa-apa, sebab ia adalah hasil dari proses tanam dan tumbuh selama berbulan-bulan dari akar, batang dan daun padi.

Begitu juga hidup kita. Kita sering menilai seseorang karena tampilan terkininya yang cantik, sehat, mapan, pintar, atau soleh, karena memang sosok itu yang berhubungan langsung dengan kita. Padahal jika kita runut asal-usulnya, manusia adalah hasil dari proses panjang dan rumit dari masa janin hingga dewasa.

Kenyataan inilah yang seharusnya membuat segala sesuatu dinilai berharga, bermartabat dan mulia. Seorang anak jalanan yang tergolek di trotoar, adalah mahluk berharga yang tidak mungkin dicari gantinya jika kita renungkan bagaimana proses asal-usulnya. Sepotong roti yang kita buang karena kita kekenyangan, adalah benda yang berharga karena ia telah melewati proses yang panjang hingga menjadi roti. Segelas air yang kita buang adalah benda berharga jika kita memikirkan bagaimana ia menjalani proses hingga hadir di hadapan kita.

Nah, tak ada sesuatu pun yang tak berharga dari kehidupan jika kita mau sejenak saja memikirkan proses asal-usulnya.

(IYUS in Annida)

Doaku Terjawab Sudah

Ketika ku mohon padaNYA kekuatan, IA beri aku tantangan agar aku jadi kuat.

Ketika ku mohon padaNYA kebijaksanaan, IA memberiku masalah tuk ku pecahkan.

Ketika ku mohon padaNYA kemakmuran, IA memberiku akal tuk berpikir.

Ketika ku mohon padaNYA cinta, IA memberiku orang-orang untuk ku tolong, ku cintai.

Ketika ku mohon padaNYA bantuan, IA memberiku jalan.

Ketika ku mohon padaNYA ampunan, IA memberiku kesempatan.

Aku mungkin belum menerima apa yang ku pinta, tapi aku selalu menerima apa yang kubutuhkan saat ini, apa yang terbaik menurutNYA. Doaku terjawab sudah.

( sumbernya dari mana ya.. aku lupa..yang jelas seh dari fotokopian yang dikasih temenku jaman dahulu :) )

Merenda Kesabaran

Sabar adalah berusaha agar hati kita senantiasa husnudzhan padaNYA, menerima segala ketentuanNYA walaupun terasa pahit, menyakitkan dan meresahkan.

Sabar adalah merasa bahagia apabila kita dapat membuat orang lain tersenyum, apabila kita bisa membahagiakan orang lain.

Sabar adalah meniti hari dengan memelihara diri menjadi seseorang yang tenang, matang dan dewasa.

Sabar adalah tiada lelah berdoa meminta padaNYA dan yakin suatu saat akan dikabulkan; tidak di dunia ya di akhirat.

Sabar adalah berikhtiar maksimal, dan hasilnya kita serahkan padaNYA. Satu catatan, ikhtiar itu harus sesuai dengan aturanNYA.

Sabar adalah mensyukuri nikmatNYA dengan memanfaatkan segala yang kita miliki tuk menegakkan dienNYA, sebelum DIA mengambilnya kembali dengan cara yang terbaik menurutNYA.

Menguatkan kesabaran yang kita miliki adalah bagian dari kesabaran.


< sumbernya? lupa .. >

Pandanglah Awan

Jadilah engkau seorang yang mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku berharap engkau selalu meningkat, jadi yang terbaik, selalu dan selalu. Berhati-hatilah dan jangan sampai turun dan jatuh.

Ketahuilah hidup itu hanya beberapa menit, bahkan hanya beberapa detik. Jadilah engkau seperti semut dalam kesungguhan, ketekunan, dan kesabaran. Coba, dan terus coba. Bertobatlah jika engkau kembali melakukan dosa, dan kembalilah pada pintu tobat. Hafalkan kembali al-Quran jika engkau telah lupa. Kembalilah mengingatnya tuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya..bahkan untuk kesepuluh kalinya. Yang terpenting, engkau tidak merasa gagal dan frustasi, sebab sejarah kehidupan tidak pernah mengenal kata akhir; akal tidak mengenal kata selesai..di sana selalu ada selalu ada upaya dan perbaikan.

Sesungguhnya umur itu seperti tubuh yang mungkin bisa dipercantik dengan operasi, seperti bangunan yang masih mungkin direnovasi. Jauhi sekolah bernama kemalasan dan kegagalan. Hilangkan prediksi-prediksi sakit, bencana, kesedihan, musibah, kesulitan dari hatimu.

QS Al Maidah : 23 "Dan hanya pada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman"

Aidh al-Qarni

(wake up !!!)

Membuat Bank ASI

Salah satu kunci keberhasilan program ASI eksklusif adalah kontinuitas. Buat ibu yang bekerja, hal ini bisa dibantu dengan pembuatan 'Bank ASI'.

ALAT

1. Freezer di rumah.
2. Freezer di kantor, jika tidak ada, termos es dengan es batu.
3. Kantong plastik biasa, ukuran 1/2 kilogram.
4. Gelas minum bersih.
5. Spidol permanen.

MEMERAH dan MENYIMPAN

1. Setidaknya sebulan sebelum masuk kerja, mulailah memerah dengan ASI dengan tangan.
- Perah areola (bagian gelap sekitar puting) dengan ibu jari, telunjuk dan jari tengah. Tekan areola dengan ritme seperti ritme mengisap bayi. Arahkan aliran ASI ke gelas bersih.
- Tulis tanggal pemerahan pada kantong plastik, dengan spidol permanen.
- Masukkan ASI perahan pada kantong plastik, ikat dan simpan pada freezer.

2. Dua minggu sebelum bekerja, mulailah melatih memberi ASI perahan dengan sendok.

3. Saat ibu kembali bekerja, usahakan memerah dari kedua payudara minimal 4 jam sekali sebanyak 3 kali selama jam kerja. Simpan ASI perahan dengan plastik dalam freezer kantor atau termos es.

MENCAIRKAN ASI BEKU

1. Siapkan air hangat suam kuku dalam rantang atau panci kecil.
2. Taruh plastik berisi ASI beku dalam air hangat itu. ASI akan mencair dalam 5 menit.

MEMBERIKAN ASI

1. Pukul 06.00. Susui bayi sekenyangnya.
2. Pukul 07.00. Ibu berangkat bekerja.
3. Pukul 08.00-17.00. Bayi diberi ASI perahan di rumah. Ibu memerah ASI di kantor jam 10.00, 14.00, dan 16.00.
4. Pukul 17.00. Ibu pulang bekerja. Hentikan pemberian ASI perahan tepat pukul 17.00. Bayi segera menghisap ASI dari ibu.
5. Malam hari. Susui bayi sesering dan selama mungkin.

CATATAN :

1. Jangan biasakan memberi susu formula sebab bayi akan cepat kenyang dan kurang menghisap ASI. Jika hisapan ASI berkurang, produksi ASI otomatis turun.
2. Jangan gunakan dot, agar bayi tidak mengalami nipple confusion (bingung puting), sehingga bayi menolak puting ibu.
3. Jangan khawatir jika bayi tidak buang air setiap hari. Hampir seluruh bagian ASI bermanfaat dan tidak banyak yang harus dibuang.
4. Jika bayi sudah memasuki usia 6 bulan, berikan makanan pendamping semi padat dan hentikan sebelum pukul 17.00.

From:  Ira Puspadewi, IBFAN (International Baby Food Action Network), in UMMI

Being a Mom

Saudariku, sesungguhnya bersama kesusahan ada kemudahan. Setelah cucuran air mata, akan terbit senyuman. Setelah malam ada siang.

Ketahuilah, sesungguhnya engkau diganjar pahala. Jika engkau seorang ibu, anak-anakmu akan menjadi penyokong Islam, jika engkau mendidik mereka dengan benar. Mereka akan berdoa untukmu dalam sujud-sujud mereka. Sungguh nikmat yang luar biasa menjadi seorang ibu yang penuh kasih dan kelembutan. Dan cukuplah bagimu untuk merasa mulia dan bahagia bahwa ibu Nabi Muhammad SAW adalah seorang ibu yang menghadiahkan bagi seluruh manusia seorang pemimpin dan Rasul yang mulia.

( Aidh al-Qarni )

The Deception Of Evolution

Darwinism, in other words the theory of evolution, was put forward with the aim of denying the fact of creation, but is in truth nothing but failed, unscientific nonsense. This theory, which claims that life emerged by chance from inanimate matter, was invalidated by the scientific evidence of clear "design" in the universe and in living things. In this way, science confirmed the fact that Allah created the universe and the living things in it. The propaganda carried out today in order to keep the theory of evolution alive is based solely on the distortion of the scientific facts, biased interpretation, and lies and falsehoods disguised as science.

Yet this propaganda cannot conceal the truth. The fact that the theory of evolution is the greatest deception in the history of science has been expressed more and more in the scientific world over the last 20-30 years. Research carried out after the 1980s in particular has revealed that the claims of Darwinism are totally unfounded, something that has been stated by a large number of scientists. In the United States in particular, many scientists from such different fields as biology, biochemistry and paleontology recognize the invalidity of Darwinism and employ the concept of intelligent design to account for the origin of life. This "intelligent design" is a scientific expression of the fact that Allah created all living things.

We have examined the collapse of the theory of evolution and the proofs of creation in great scientific detail in many of our works, and are still continuing to do so. Given the enormous importance of this subject, it will be of great benefit to summarize it here.

-The Scientific Collapse of Darwinism
-
Although this doctrine goes back as far as ancient Greece, the theory of evolution was advanced extensively in the nineteenth century. The most important development that made it the top topic of the world of science was Charles Darwin's The Ori f Species, published in 1859. In this book, he denied that Allah created different living species on Earth separately, for he claimed that all living beings had a common ancestor and had diversified over time through small changes. Darwin's theory was not based on any concrete scientific finding; as he also accepted, it was just an "assumption." Moreover, as Darwin confessed in the long chapter of his book titled "Difficulties of the Theory," the theory failed in the face of many critical questions.

Darwin invested all of his hopes in new scientific discoveries, which he expected to solve these difficulties. However, contrary to his expectations, scientific findings expanded the dimensions of these difficulties. The defeat of Darwinism in the face of science can be reviewed under three basic topics:
1) The theory cannot explain how life originated on Earth.
2) No scientific finding shows that the "evolutionary mechanisms" proposed by the theory have any evolutionary power at all.
3) The fossil record proves the exact opposite of what the theory suggests.

by Harun Yahya.
More? on www.harunyahya.com.

Another Great Secret

Allah tells us that believers will undergo many tests in this world. For example, they will be tested in their personal lives and with their possessions, or will be confronted with traps set by unbelievers and be falsely accused. In other words, they may encounter difficulties at every stage in their lives. But the important thing is that they continue to practice the Qur'an's morality in difficult times, remember Allah without ceasing, give thanks, and realize that everything will turn out well.

Of course, it is easier to do these things when one is enjoying His blessings than when one is undergoing difficult times. But one of the main things that prove the strength of the Muslims' faith is their refusal to compromise their moral character. Muslims who patiently endure poverty, hunger, fear, personal and material loss, illness, threats from unbelievers, slander, and entrapment will receive a better reward for their moral excellence.

The Qur'an gives many examples of the entrapments and tyranny suffered by the Prophets and other devout Muslims. One example of this is the tyranny that Pharaoh exercised over his people. In the Qur'an, Allah says that this was a testing from Himself:
Remember when We rescued you from the people of Pharaoh. They were inflicting an evil punishment on you�slaughtering your sons and letting your women live. In that there was a terrible trial for you from your Lord. (Surat al-Baqara, 49)

As this verse says, everything that unbelievers do to prevent good is a test for believers. Their unwavering moral character, courage, and fortitude they display while enduring these trials will increase their reward and status in Paradise. The Qur'an tells us what kind of tests believers will undergo and the fine moral character they will display, as follows:
We will test you with a certain amount of fear and hunger, and loss of wealth, life, and fruits. But give good news to the steadfast. Those who, when disaster strikes them, say: "We belong to Allah, and to Him we will return." Those are the people who will have blessings and mercy from their Lord; they are the ones who are guided. (Surat al-Baqara, 155-57)

The trust and submission described in these verses is a good example for all Muslims. But unbelievers cannot understand this patient trust, for they think that believers are just like themselves and behave according to their own misguided criteria. Thus, they think that believers will respond to abundant wealth by getting caught up in it, and will allow difficulties and frustration to make them so afraid that they will abandon their belief.
But this is a grave error on their part, for Muslims who understand the secret of this world's trials know that one of the finest things to do in such circumstances is to be patient.

For those Muslims who practice the Qur'an's morality and do their best to inculcate this fine morality in others, all such troubles are a sign that they are on the right path. As a result, they increase their eagerness, joy, and determination to continue following His path.
In the Qur'an, Allah speaks of laws that have remained unchanged throughout history. One of them is that believers will encounter difficulty and frustration and be subjected to oppression by unbelievers. However, the unbelievers will never succeed in their aims:
They were very near to scaring you from the land with the object of expelling you from it. But had they done so, they would only have remained there a short time after you. That was the pattern with those We sent before you as Our Messengers. You will not find any changing of Our pattern. (Surat al-Isra', 76-77)

This is one of the secrets of this world's trials. Allah has warned Muslims of the many things that they will face, and has revealed that they will be able to enter Paradise only if they face the same difficulties as the preceding believers did:
Or did you suppose that you would enter the Garden without facing the same as those who came before you? Poverty and illness afflicted them, and they were shaken to the point that the Messenger and those who believed with him asked: "When is Allah's help coming?" Be assured that Allah's help is very near. (Surat al-Baqara, 214)

by HARUN YAHYA

True Friends

There is a common saying among non-religious people : Someone who has fallen on hard times has no friends. This is a good expression of the common idea that you cannot find a real friend when you need one. However, friendship, loyalty, and faithfulness are very important in a person's life, for those who are in financial difficulty or ill, or in need of spiritual support, want a real close friend at their side—. Friend who is a believed —to help them.

But since all relationships in non-religious societies are based on opportunism, unbelievers can never find a true friend. Only when they are in trouble or need do people see the real face of those whom they had always considered to be their friends. Their supposed friends even give trouble to them in such difficult times. For example, people going through times of need complain that no relative calls, that they are left alone, and that no one gives them any support.
For example, a wealthy person who drives an expensive car and eats in gourmet restaurants generally has a wide circle of friends, including many close ones. But if he loses his job and starts to work in a salaried position in his own factory, how will his relationships fare? Will his circle of friends show him the same love and respect that they did when he was rich? Will he be treated with the same interest, respect, and affection as when he wore expensive clothes and drove a luxury car? How will he be treated if he dresses modestly, does not throw his money around like he used to, and does not treat his friends to dinners? Clearly, he will not enjoy the same attention. Indeed, all of those whom he thought were his friends will turn their back on him. When they meet him, they will pretend not to see him or even might ridicule him. Actually, this person's spirit has not changed; only his external appearance has changed. But because his erstwhile friends rely on outward material appearances, they abandon him in a moment, leaving him all by himself.

Take another example, that of a married couple. When they were married, they promised to stay together both in good times and bad. But what happens when the wife becomes paralyzed below the waist due to an accident and thus cannot walk or do anything for herself? What will her husband do? Perhaps he will stay with her for a while and help. But when he realizes that this is a permanent situation and one from which he will never benefit, everything suddenly changes. This example clearly shows how unbelievers regard loyalty, fidelity, and friendship: When the profit goes, the connection ends.

Most of those who do not abandon their spouse in such a situation stay because they are afraid of what their friends may think, not out of love and compassion for the handicapped spouse. On the surface, they appear dedicated and loyal, but they never feel real compassion and empathy for their spouse when he or she most needs it.
Another frequently encountered situation seen in unbelieving societies that are far from the Qur'an's morality is how young people behave toward their elderly parents. For years, their families met their every need; but when their parents become old and their limbs do not support them any more, the young people do not show their parents the same loyalty and attention. They feel fettered by their elderly parents and usually put them in an old people's home.

However, Muslims show the loyalty in how they treat their family members. They feed their parents but may not eat themselves, and will take great care to meet all of their needs. Allah describes how Muslims must behave toward their parents :
Your Lord has decreed that you should worship none but Him, and that you should show kindness to your parents. Whether one or both of them reach old age with you, do not say "Ugh!" to them out of irritation, and do not be harsh with them; rather, speak to them with gentleness and generosity. (Surat al-Isra', 23) .

In other words, Muslims will not complain about believers who are in need; rather, they will help in every way they can, humanely and out of a good conscience. The only place you can find real friendship, sincere loyalty, and faithfulness is among devout Muslims. Muslims are friends, advocates, and helpers to one another. Obliged by their moral character to consider the good and well-being of their friends, even when they fall into desperate straits, they always do their best to fulfill their friends' needs before their own and take pleasure in their acts of self-sacrifice. When their friends are ill or in financial distress, they do not mind seeing to their every need even before they are asked to do so. Even if they lose sleep and go hungry, they will not see their Muslim friends treated unjustly or in any need. In the Qur'an, Allah tells us about the true friends of believers :
Your friend is only Allah, His Messenger, and those who have faith: those who establish prayer, pay alms, and bow. (Surat al- Ma'ida, 55)

Those who believe and have migrated and striven with their wealth and themselves in the Way of Allah, and those who have given refuge and help, they are the friends and protectors of one another. But as for those who believe but have not migrated, you are not in any way responsible for their protection until they migrate. But if they ask you for help in respect of the religion, it is your duty to help them, except against people with whom you have a treaty. Allah sees what you do. (Surat al-Anfal, 72)

by Harun Yahya

Pudding Marie

Bahan : 1. 100 gram biskuit Marie 2. 100 gram gula pasir 3. 4 kuning telur 4. 150 gram margarin 5. 400 ml susu 6. 1 sendok teh air jeruk nipis 7. 4 putih telur, dikocok kaku

Cara Membuat : 1. Masak susu dan biskuit sambil diaduk sampai hancur, sisihkan. 2. Kocok gula dan margarin sampai lembut. Masukkan kuning telur satu persatu, tambahkan adonan biskuit. 3. Tambahkan putih telur dan air jeruk nipis, aduk perlahan. 4. Tuang ke loyang yang telah dioles margarin lalu kukus selama 1 jam.

Porsi : 20 buah

Teh Jahe

Bahan :
1. Jahe 250 gram
2. Lada hitam 5 gram
3. Cengkeh 10 buah
4. Kayu manis 25 gram
5. Teh celup 15 gram
6. Air 5 liter
7. Gula pasir 1 kg

Cara Membuat :
1. Panaskan air hingga mendidih.
2. Masukkan semua bahan dalam rebusan air.
3. Setelah mendidih sekitar 30 menit, angkat lalu hidangkan.

Sumber : Anggun Vol.3

Hujan di Awal September

Alhamdulillah..setelah sekian lama kering, sore ini Bandung diguyur hujan..
Bulan-bulan masehi berakhiran 'ber' biasanya memang identik dengan hujan.
Kan musimnya katanya..


Ada yang bilang hujan identik dengan romantisme dan kesedihan. Apa hubungannya ya? .. Ah itu mah pinter-pinternya aja menghubung-hubungkan ya :D.

Syukuri saja setiap tetesannya ya..pasokan air bertambah, udara jadi segar, tumbuhan & hewan liar pada bisa survive. Pernah bayangin ga, gimana tumbuhan dan hewan liar (kayak yang di hutan) minum, kalo ga ada hujan?. Subhanallah, Allah lah yang menjamin rezeki setiap mahlukNya ya..


Alhamdulillah kurang dari 1 minggu kita kan tiba di bulan Ramadhan, insyaALLAH..Semoga kita tidak pernah menyia-nyiakan Ramadhan, hanya memperoleh lelah-lapar-haus, sekedar menahan godaan, dan insyaf sesaat. Mudah-mudahan kita benar-benar mengup-grade ketakwaan (dan ketaatan) kita padaNYA di bulan ini, sebagai starter tuk 11 bulan berikutnya..

Bandung, 07092007.

Sup Buntut

Bahan :
1. 500 gr buntut sapi
2. 1 liter air
3. 1 buah wortel, potong zigzag
4. 1 buah kentang, potong kubus
5. 5 butir cengkeh
6. 1 sdt merica bubuk
7. 1/2 sdt pala bubuk
8. 1 sdt kembang pala halus
9. 2 sdt garam

Cara membuat :
Semua bahan dicampur jadi satu. Rebus sampai buntut lunak.

Untuk 4 porsi
Sumber : Aura

Cake Singkong

Bahan :
1. 1 kg singkong mentega, kupas, parut.
2. 250 gr gula fruktosa/gula buah.
3. 2 butir telur.
4. 200 cc santan kental.
5. 2 sdm minyak goreng.
6. 1 sdt garam.
7. 1 sdt coklat bubuk.

Cara Membuat :
1. Kocok gula dan telur hingga kental.
2. Masukkan singkong, minyak, garam, dan santan. Aduk rata.
3. Olesi loyang dengan minyak goreng dan tuang adonan, ratakan. Sisakan sedikit adonan, bubuhi coklat bubuk, ratakan. Tuang di atas adonan tadi.
4. Panggang hingga matang. Potong sesuai selera.

Sumber : Nakita